Healthy Inside Out | Parenting Teens


Saat ini semakin banyak orangtua yang sadar akan pentingnya kesehatan anak-anak dan remaja mereka bukan hanya sekedar kesehatan fisik saja, namun juga kesehatan mental. Hal ini bisa dilihat dengan semakin banyaknya orangtua yang mencari tahu tentang kesehatan mental serta mengikuti workshop yang berkaitan dengan hal ini.

Sebagai orangtua, tentunya kita mengharapkan anak-anak dan remaja agar sehat secara fisik dan mental. Ada banyak cara untuk membantu anak remaja kita dalam mencapai hal tersebut, seperti membaca literatur mengenai kesehatan fisik dan mental anak, serta menghadiri pelatihan-pelatihan yang diperlukan, baik buta si anak mau pun untuk orangtuanya.

Namun karena kesibukan serta mungkin kurangnya pengetahuan yang berkaitan dengan kesehatan fisik serta sisi emosional anak, terkadang terjadi ketidakseimbangan antara kesehatan fisik dan mental tersebut.

Lalu bagaimana menyeimbangkannya? Orangtua dan pendidik sangat berperan dalam hal ini, sehingga perlu sekali mencari informasi yang tepat demi menyeimbangkan dua hal di atas. Lola Magazine sendiri sangat concern dengan hal ini, itulah mengapa pada hari Sabtu tanggal 20 Januari 2018 lalu, LolaMagz hadir di acara bertema "Healthy Inside Out" yang berlangsung di Workroom Cikini dengan dua pembicara ahli, Fiona Esmeralda dan Anna Surti Nina.

Acara ini dikhususkan bagi anak usia 9-15 tahun, namun orangtua dipersilahkan untuk ikut mendengarkan.  Pada kesempatan tersebut, dr. Fiona Esmeralda, MM mengajak anak-anak dan remaja yang hadir untuk lebih memperhatikan asupan makanan mereka.

Remaja rata-rata membutuhkan sekitar 2.200 sampai 2.800 kalori per harinya, sesuai dengan umur serta aktivitas fisik mereka masing-masing. Lalu bagaimana caranya kita tahu bahwa kalori yang masuk kurang lebih sesuai dengan yang kita butuhkan?

Memperhatikan label makanan adalah salah satu caranya. dr. Fiona menyarankan remaja untuk mempelajari nutrition facts seperti di bawah ini. Cek jumlah kalorinya dan ingat, jumlah kalori harus di kalikan jumlah servingnya.

Jadi misalnya ada makanan yang kalorinya hanya 100 calories tapi serving per containernya misalnya 4, artinya kalori dari satu kotak makanan itu bukan 100, melainkan 400.

dr. Fiona juga memberi contoh mana makanan sehari-hari yang tinggi kalori, mana yang rendah kalori. Misalnya, satu paket makanan cepat saji mengandung sekitar 1300 kalori, sama dengan jumlah kalori 18 buah apel merah.

Tidak hanya pada makanan, dalam memilih minuman kita pun harus ekstra hati-hati karena kandungan gula dalam minuman kadang tidak terduga. Lihat saja tabel di bawah ini yang memperlihatkan bahwa salah satu minuman bersoda favorit anak-anak ternyata mengandung gula yang sangat banyak.

Para peserta asik mengerjakan tugas dan games.
dr. Fiona memberikan tips singkat bagi anak-anak remaja dalam memilih makanan dan minuman yang hendak dikonsumsi, yaitu agar mereka menghindari makanan dan minuman yang tinggi gula, tinggi garam, pengawet, pewarna, serta bahan kimia. Sebagai gantinya carilah makanan dan minuman yang tinggi serat, rendah garam, rendah gula, masih segar dan organik. Dan jangan lupa untuk memeriksa tanggal kadaluarsa serta label halal bagi yang muslim.

Setelah sesi bersama dr. Fiona, acara workshop dilanjutkan dengan sesi dari psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi. M.Si. yang biasa disapa Nina.

Mbak Nina mengajak anak-anak untuk mengenali diri sendiri termasuk emosi-emosi yang mereka rasakan. Seperti adanya rasa marah, rasa takut, senang, dan lain sebagainya. Menurut mbak Nina semua emosi yang kita rasakan itu normal namun sebagai anak yang mulai beranjak remaja, kita perlu mengontrol emosi-emosi tersebut agar kehidupan kita menjadi lebih bahagia dan seimbang.

Misalnya saat kita memiliki emosi negatif hal tersebut harus segera diatasi karena jika tidak, emosi negatif tersebut akan memberi efek jelek pada kehidupan kita, misalnya kita menjadi cepat lelah, sering bermasalah dengan orang lain sehingga menyebabkan kita kehilangan teman, sampai kemungkinan menderita penyakit psikologis.

Beberapa hal yang disarankan oleh mba Nina adalah menuliskan emosi-emosi yang kita rasakan lalu memahaminya satu per satu. Bicaralah dengan orang tua, teman, dan ahli jika memang diperlukan.

ki-ka : Zata (LolaMagz), Eka (The Urban Mama), dr Fiona, Honey (The Urban Mama), dan mba Nina.
*****

0 komentar

Oldies But Goodies