4 Kiat Mengelola Kecemasan dalam Menjadi Orangtua



Dicengkeram dengan ketakutan dan khawatir hampir pasti pernah di rasakan semua orangtua. Sebuah tanggung jawab yang mungkin nyaris tidak akan selesai meski kita telah menua. Menguras energi dan semua sumber daya yang di miliki. Pemenuhan keseimbangan antara kebutuhan diri sendiri dan kebutuhan anak-anak seringkali menjadi sebuah kondisi yang sulit di capai.

Perlu banyak kompromi saat kita menjadi orangtua, tidak bisa di pungkiri orangtua kerap di hampiri kecemasan, yang kemudian mendominasi tanpa memberi anak-anak peluang dan kebebasan untuk mengeksplorasi, bertanggung jawab, dan tumbuh mandiri. 

Dengan landasan kasih, sayang, melidungi dan memastikan anak-anak memperoleh yang terbaik di masa depan, terlebih ketika anak-anak mulai memasuki usia sekolah. Beberapa orangtua bahkan sanggup melakukan hal di luar batas demi anak-anaknya.

Salah satunya bisa  kita saksikan lewat sebuah drama korea, judulnya "Sky Castle" pecinta drama korea pasti familiar dengan drama keluarga yang penayangannya meraup sukses besar di awal tahun 2019 ini.

Memang hanya sebuah drama, namun sedikit banyak harus di akui ada sebuah realita kehidupan nyata dan menghantui orangtua tentang ini.

“Anak saya tidak berprestasi di sekolah tahun lalu. Saya khawatir tahun ini akan lebih buruk "
"Anak saya lambat menyerap pelajaran. Saya akan mencari guru les dan bimbel terbaik di kota ini"
“Saya harus menyeleksi dengan siapa anak saya berteman. Saya tidak dapat membayangkan dengan siapa dia bergaul!
"Passing grade setiap tahun berubah, saya harus mencari tahu berapa batas terendah tahun ini"
“Bagaimana ya kalau anak saya tidak nyaman dengan anak ibu sebelah rumah. Duh, mengapa mereka harus satu sekolah!"
"Anak saya harus masuk sekolah yang menjamin keamanan, akses keluar masuk di batasi. Saya takut anak saya kenapa-kenapa! keadaan di luar rumah tidak aman"

Hal-hal di atas mungkin pernah terbersit dalam benak orangtua, atau malah bisa lebih ekstrem.

Sangat wajar jika orangtua ingin melindungi anak-anak, belum lagi di tambah banyaknya berita yang mengundang paranoid. Tindakan antisipasi dari apa yang mungkin terjadi serta memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi memang di perlukan. 

Namun, ada hal yang perlu di renungkan ketika kecemasan ini menjadi sangat berlebihan dan menjadi sebuah siklus negatif tanpa akhir. Jangan sampai kondisi ini justru mempengaruhi tumbuh kembang anak yang kemudian bisa mempengaruhi kondisi kesehatan mental baik anak dan orangtua. 
Kondisi kesehatan  tak lagi bisa dianggap remeh. Karena kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan penyakit atau kecacatan lain. Berikut ini ada beberapa tips singkat untuk sedikit meminimalkan kecemasan yang menghantui orangtua.

1. Istirahat kan diri dari rasa khawatir, yakini anak-anak mampu menjadi dirinya sendiri.
Kita hidup di tengah membanjirnya arus informasi, yang seringkali malah membuat otak kita tidak mampu mencerna dan menjadi terlalu banyak berpikir. Buang rasa khawatir. Setiap anak di lahirkan sesuai dengan zamannya, yakini anak memiliki potensi dan kekuatan tersendiri. 

2. Pahami perbedaan takut dan realita. 
Misalnya, alih-alih melarang anak tidak sembarang bicara kepada orang asing. Jangan lupa juga bekali mereka dengan pengetahuan yang di butuhkan untuk melindungi diri mereka sendiri sehingga mereka dapat bertindak jika merasa terancam atau  tidak nyaman. Kesadaran adalah hal yang konstan dalam melindungi semua anak agar tidak dieksploitasi, di bully atau diculik

3. Nilai dan pengakuan bukan segalanya. 
Orangtua hanya mengarahkan bukan menentukan. Berikan ruang gerak yang leluasa kepada anak-anak, tak ada ruang untuk ego orangtua. Sukses memang menjadi tujuan semua orang, orangtua mana yang tidak bangga jika anaknya sukses. Namun proses seringkali lebih berharga dari makna sukses itu sendiri. Tolak ukur sukses sangat beragam tak melulu tentang nilai yang tinggi, uang yang banyak dan pengakuan. Setiap anak memiliki hak dan kebebasan sendiri untuk menjalani kehidupan, melakukan segala sesuatu yang di inginkan, yang terpenting mereka siap dan mampu bertanggung jawab untuk semua resiko yang akan datang dari keputusannya.

4. Fokus pada diri sendiri.
Bagaimana bisa fokus pada diri dendiri apalagi punya 3 anak, pekerjaan, dan lusinan pekerjaan yang antre harus dikerjakan?! Nah, Berfokus pada diri sendiri ini bukan berarti tidak lagi mau pusing urusan anak, namun bagaimana orangtua juga menemukan cara untuk menjadikan dirinya sebagai prioritas. Jika tidak peduli dengan diri sendiri, maka sulit untuk dapat mengurus anak-anak, rumah, pekerjaan dengan maksimal. 

Setiap orangtua sangat mencintai dan peduli pada anak-anak dan ingin melindungi mereka dari pergumulan dan kekecewaan dalam hidup. Tetapi buat apa kalau orangtua justru tidak merasa tenang. Padahal ketika kita bisa lebih tenang, sesungguhnya kehidupan akan merespon dan akan berfungsi dengan cara yang lebih baik. Tenang juga bukan berarti santai, namun bagaimana kita bijak memposisikan diri untuk tanpa beban sekaligus tetap waspada. Jadi bagaimana? Yuk sama-sama menjadi orangtua yang lebih sehat, positif dan tidak perlu terlalu cemas! Say No to worries at our children! [NH]

Referensi : Parental Empowering, Psychparental

0 komentar

Oldies But Goodies