Manfaat Positif Media Sosial Bagi Remaja | LolaTeens


Dear Lolas and LolaTeens...

Seminggu terakhir ini kita cukup dikejutkan dengan berita mengenai bullying dan cyberbullying yang berujung pada pengeroyokan yang dialami oleh seorang remaja perempuan di Pontianak. Salah satu pemicu mengapa hal itu terjadi adalah MEDIA SOSIAL !

Duh, sebagai orangtua dan bagi LolaTeens juga, fakta ini pasti bukan hal baru namun tetap saja bikin merinding ya..

Saat mendengar soal media sosial pasti ada dua hal yang melintas, hal negatif dan positif, meski pada prakteknya lebih banyak yang memandang media sosial sebagai sesuatu yang kurang baik, membuat kecanduan, kasar, cyberbullying, public shaming, dan hal lainnya. 

Namun, nggak bisa dipungkiri, lho, bahwa media sosial juga membawa manfaat positif bagi kita, juga bagi remaja. Suprisingly, manfaatnya pun banyak dan sangat positif. Yuk, kita bahas satu per satu.

MENGATASI RASA KESEPIAN SERTA MENDAPATKAN INFORMASI
Tidak semua remaja bisa sering bertemu dengan teman dan keluarganya karena beragam alasan, rumah yang jauh dari teman-teman lainnya, masalah ekonomi, dan lain-lain. Dengan berinteraksi lewat media sosial dengan teman dan keluarga, mereka bisa mengurangi rasa kesepian dan tetap mengetahu kabar terbaru dari orang-orang yang penting dalam hidupnya.

Media sosial jug menjadi sarana hiburan dalam mengatasi rasa kesepian, menonton channel youtube yang positif seperti tutorial make up, tutorial belajar musik, belajar bahasa, dan lain-lain adalah salah satu aktivitas yang sering dilakukan remaja lewat media sosial, lho.

Ya, media sosial juga merupakan sumber informasi dan berita yang diakses oleh remaja. Lewat media sosial mereka bisa mengetahui berita terkini, topik-topik hangat yang sedang dibicarakan yang tentunya akan menambah wawasan mereka.

Tak hanya itu, mereka juga bisa mendapat informasi yang bisa membantu mereka menemukan solusi permasalahan mereka sendiri atau permasalahan teman dan keluarga. Misalnya mereka bisa mencaritahu soal bahaya narkoba, seks bebas, dan lain sebagainya lewat media sosial juga.

MEMPERERAT PERSAHABATAN
Di era Revolusi Industri 4.0 ini kehidupan bergerak dengan cepat, tak semua orang punya banyak waktu bahkan untuk sahabat-sahabat mereka sendiri, termasuk remaja. Kesibukan sekolah, ekstrakurikuler, les ini les itu, acara keluarga, dll, menyebabkan tak semua dari mereka bisa punya banyak waktu dengan para sahabat.

Risiko menjadi jauh bahkan kehilangan sahabat tentunya sangat tak nyaman bagi mereka. Apalagi masa anak-anak sampai remaja adalah masa di mana pertemanan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam hidup mereka.

Sebuah penelitian menunjukan bahwa remaja yang memiliki sahabat bisa mengurangi risiko mengalami bullying. Faktanya, banyak pelaku bully mengincar remaja-remaja yang sendirian, tak punya sahabat, dan kelihatan kesepian.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Common Sense Media menunjukan bahwa 52% remaja merasa bahwa media sosial justru mempererat persahabatan mereka dan hanya 4 % yang merasa sebaliknya. 30 % dari mereka bahkan merasa media sosial membuat mereka merasa lebih percaya diri dan bisa bersosialisasi.

MEDIA BEREKSPRESI DAN MEMBANGUN DIRI
Pernah lihat remaja-remaja yang secara positif mengembangkan minatnya akan suatu hal lewat media sosial?. Yang hobi menulis, hobi make up, hobi menyanyi, hobi DIY, hobi bikin video, dst. Remaja-remaja ini memanfaatkan media sosial untuk mengekspresikan dirinya serta membangun diri serta personal branding mereka dengan baik dan tepat.

Memiliki media berekspresi sangat penting bagi remaja, apalagi penelitian menunjukan adanya hubungan antara self-expression dengan self-confidence. Saat mereka diberikan media dan mengekspresikan dirinya sesuai dengan bakatnya, mereka menjadi lebih puas dengan hidupnya dan lebih merasa positif.

Sebaliknya, saat mereka tidak punya kesempatan untuk mengekspresikan diri dan tak ada kesempatan bertemu dengan teman-teman seumuran yang punya passion yang sama, kemungkinan hal tersebut akan mengganggu ego mereka. Mereka bisa saja merasa berbeda dan tak didukung. 

Irma Gustiana A, M.Psi (kiri) dan Febie Samatha (kanan) dari Ruang Tumbuh Indonesia.

Manfaat positif media sosial bisa dirasakan oleh para remaja kita salah satunya dengan dukungan dan bimbingan para orangtua.  Menurut Irma Gustiana A, M.Psi, Psikolog dari Ruang Tumbuh, ada banyak hal yang bisa mengakibatkan anak dan remaja mampu berperilaku agresif, melanggar aturan, merasa depresif, demotivasi dan sebagainya, salah satunya adalah penggunaan sosial media yang salah.

Nah, sebenarnya orangtua mampu meminimalisir potensi anak mengalami masalah psikologis, antara lain :

  • Beri tahu anak bahwa ia dicintai dan selalu akan dikasihi, apa pun yang terjadi. Tunjukkan cinta padanya melalui kata-kata, bahasa tubuh, komunikasi nonverbal dan dengan memberinya banyak pelukan atau usapan (skin to skin contact) .
  • Puji dan dorong anak ketika dia melakukan sesuatu dengan baik atau berperilaku sesuai aturan. 
  • Luangkan waktu setiap hari untuk berbicara dan mendengarkan anak. Jika anak ingin berbicara, coba untuk menghentikan apa yang sedang kita lakukan dan beri dia perhatian penuh. Setting "wajah" dan emosi sesuai dengan alur cerita anak. 
  • Nikmati waktu bersama anak. Here and now. Cara terbaik untuk melakukan ini adalah dengan menghabiskan waktu melakukan hal-hal yang disukai anak misalnya nonton film bersama, olahraga bersama, dsb.
  • Lakukan hal-hal positif untuk menyelesaikan masalah dan mengelola konflik antara pasangan (papa mama jangan sering "bertengkar" di hadapan anak ya!).
  • Dorong anak dan remaja kita untuk terhubung dengan orang lain di sekitarnya misalnya, menyapa tetangga, melambaikan tangan, mengobrol dengan tetangga, mengundang teman bermain ke rumah dll. Anak akan belajar bahwa untuk bisa terhubung dengan orang lain, ada banyak cara yang bisa dilakukan.  Salah satunya juga lewat sosial media. Ajarkan mereka untuk memanfaatkan media sosial untuk bersosialisasi. Sapa teman dan keluarga lewat sosial media. Puji dan apresiasi teman yang memposting hal positif di media sosial, dan seterusnya.
  • Dukung anak ketika ada sesuatu yang mengganggunya. Misalnya, jika anak mengalami masalah dengan teman-teman di sekolah, kita bisa memberinya banyak pelukan dan meyakinkannya bahwa kita bersedia membantunya. Anak remaja juga masih suka dipeluk, lhooo…
  • Bicarakan tentang emosi dengan anak dan ajari anak untuk mengenali dan memberi label emosinya. Kita juga bisa memberi tahu dia bahwa semua jenis perasaan itu normal. misalnya "kaka sedih ya karena teman dekat kaka pindah?. Gak apa-apa sayang, nanti kamu tetap bisa berkomunikasi sama dia lewat telepon dan medsos, kann..".
  • Ulangi lagi hal-hal di atas setiap hari dan setiap saat, dengan penuh cinta. 
Jadi, kesimpulannya, media sosial bukanlah hal yang menakutkan dan harus kita larang penggunaannya. Media sosial merupakan hak mereka juga di era industri 4.0 ini. Mereka berhak tahu dan mempelajari ilmu digital sehingga mereka bisa lebih bijaksana dalam menggunakannya untuk perkembangan diri dan kualitas hidup yang lebih baik.

Sebagai orangtua, peran kitalah yang membantu dan mengarahkan anak remaja pada kebaikan serta bahaya media sosial. Tentu saja lewat pengarahan yang tepat serta curahan kasih sayang yang tak terhingga :)

*****

0 komentar

Oldies But Goodies